Ruang dan Budaya: Cerita Arsitektur Vernakular di Sumatera Tengah dan Barat dari Masa ke Masa

Ruang dan Budaya: Cerita Arsitektur Vernakular di Sumatera Tengah dan Barat dari Masa ke Masa
Istana Siak Sri Indrapura / Foto: Istimewa

JAKARTA - Kajian tentang arsitektur Barat di Indonesia sebelum Perang Dunia Kedua jarang diterbitkan di Belanda karena keterbatasan arsip dan dominasi pandangan “sejarah arsitektur progresif” yang menitikberatkan pada modernisme, padahal di Hindia Belanda modernisme hanya berperan kecil akibat kondisi iklim tropis yang menuntut adaptasi lokal seperti penggunaan atap khas Hindia dan jendela tinggi sempit (Obbe H. Norbruis, t.t.). Sementara itu, di Indonesia, minat terhadap arsitektur kolonial justru meningkat, meskipun sering terjadi kekeliruan dalam publikasi akibat kurangnya verifikasi sumber. 

Dalam konteks sejarah arsitektur, istilah “klasik” merujuk pada karya yang bernilai abadi dan berakar dari kebudayaan Yunani-Romawi, dengan karakter monumental dan fungsi religius (Mengenal Arsitektur Klasik - ARSITAG, t.t.). Gaya neoklasik kemudian muncul pada abad ke-18 sebagai reaksi terhadap Rococo dan Baroque, berupaya mengembalikan kemurnian estetika Yunani-Romawi melalui prinsip Vitruvian dan pengaruh tokoh seperti Andrea Palladio, Étienne-Louis Boullée, serta Claude Nicolas Ledoux yang menekankan fungsi dan bentuk geometris abadi (Mengenal Arsitektur Neo Klasik - ARSITAG, t.t.).

Perkembangan gaya arsitektur di dunia mengalami dinamika yang signifikan dari masa ke masa. Pada awal abad ke-18, gaya arsitektur neoklasik muncul sebagai bentuk kebangkitan nilai-nilai seni dan prinsip arsitektur Yunani-Romawi kuno yang menonjolkan kemurnian, kejelasan, serta idealisme estetika. Di Indonesia, gaya ini diperkenalkan pada masa pemerintahan kolonial oleh Herman Willem Daendels, yang menilai gaya arsitektur sebelumnya, yaitu Indisch, kurang mampu menampilkan kekuasaan dan wibawa. 

Hingga kini, gaya neoklasik tetap diminati karena kesan mewah dan monumental yang sesuai dengan kebutuhan desain bangunan modern seperti mix-used building (pusat perbelanjaan, hotel, dan apartemen), yang berkembang akibat keterbatasan lahan dan meningkatnya populasi di kawasan perkotaan (Azis Mulyantoro, t.t.).

Di sisi lain, rendahnya kesadaran terhadap nilai arsitektur lokal Indonesia menyebabkan terjadinya pergeseran menuju arsitektur modern ala Barat, yang sering dianggap lebih maju dan universal. Namun, pemahaman terhadap arsitektur lokal kerap bersifat statis, sehingga upaya menggabungkan unsur lokal dan modern sering kali hanya bersifat visual tanpa pemahaman mendalam. 

Wacana Arsitektur Nusantara kemudian muncul sebagai upaya untuk menjadikan arsitektur lokal sebagai dasar perancangan yang adaptif terhadap konteks kontemporer. Konsep ini digagas sejak Simposium Nasional ITS tahun 1999 oleh Prof. Josef Prijotomo, dan diperkuat oleh para pemikir seperti Pangarsa (2006), Antariksa (2017), serta Kusno (2020), yang menekankan pentingnya keragaman tradisi dan identitas regional sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi arsitektur Barat (Khamdevi dan Joel, 2024).

A. Arsitektur Nusantara

Arsitektur Nusantara merupakan bentuk arsitektur yang berkembang di wilayah kepulauan Indonesia sejak awal masehi hingga abad ke-18, ketika kawasan ini dikenal sebagai Nusantara yang berarti kumpulan pulau-pulau di antara lautan, di mana laut justru menjadi penghubung antarwilayah. Arsitektur ini dianggap sebagai periode awal perkembangan arsitektur Indonesia dan dapat disetarakan dengan arsitektur klasik di Eropa. 

Menurut Prijotomo (2018), istilah “Arsitektur Nusantara” mencakup tiga aspek utama, yaitu tempat (wilayah geografis dan iklimnya), langgam (gaya seni dan etnik), serta budaya (nilai dan teknologi lokal). Dengan demikian, Arsitektur Nusantara adalah arsitektur yang berakar di tanah Nusantara, menggunakan gaya dan budaya setempat seperti langgam Aceh, Minangkabau, atau Jawa, yang mencerminkan kekayaan identitas dan karakter tiap daerah di Indonesia (Maria Sudarwani, t.t).

B. Arsitektur Klasik

Arsitektur klasik merupakan gaya arsitektur yang lahir dari peradaban Yunani dan Romawi kuno, yang dikenal memiliki nilai keabadian, kemegahan, serta aturan desain yang ketat dan terukur. Gaya ini menonjolkan penggunaan kolom, ornamen, dan proporsi simetris yang melambangkan keindahan, kekuatan, dan keteraturan. 

Material yang digunakan umumnya berasal dari alam, seperti batu dan marmer, dengan detail pahatan yang rumit dan presisi tinggi. Bangunan bergaya klasik biasanya berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah ibadah, atau ruang publik, dengan tujuan menampilkan kemuliaan dan kesempurnaan bentuk arsitektur. (Mengenal Arsitektur Klasik - ARSITAG).

C. Arsitektur Neoklasik

Arsitektur neoklasik merupakan gaya yang muncul pada pertengahan abad ke-18 sebagai reaksi terhadap kemewahan arsitektur Baroque dan Rococo, dengan tujuan mengembalikan kemurnian dan kesederhanaan bentuk arsitektur Yunani dan Romawi kuno. Gaya ini mengadopsi prinsip-prinsip Vitruvian dan karya Andrea Palladio, serta dipengaruhi oleh gagasan geometris dan rasional dari arsitek seperti Étienne-Louis Boullée dan Claude Nicolas Ledoux. 

Ciri khas arsitektur neoklasik meliputi garis-garis tegas dan simetris, fasad datar, kolom-kolom berdiri bebas, serta minim ornamen untuk menonjolkan kesan elegan dan seimbang. (Mengenal Arsitektur Neo Klasik - ARSITAG)

Discussion

1. Bangunan Arsitektur Nusantara (Istana Basa Pagaruyung)

Istana Pagaruyung terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tidak jauh dari Kota Batusangkar. Bangunan yang berdiri saat ini merupakan replika dari istana asli yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Pagaruyung. Sebagai salah satu ikon budaya Minangkabau, kompleks istana tersebut kini difungsikan sebagai museum sekaligus destinasi wisata budaya yang populer di Sumatera Barat.

- Sejarah

Istano Basa Pagaruyung awalnya merupakan bangunan bersejarah yang didirikan oleh Raja Adityawarman. Sebelumnya Istana Pagaruyung berlokasi di atas Bukit Batu Patah. Namun pada tahun 1804, istana tersebut dibakar habis saat perang Padri. Kemudian pada tahun 1976 replika Istana Pagaruyung dibangun kembali di Kabupaten Tanah Datar. 

Gagasan pembangunan kembali Istano Pagaruyung sebenarnya sudah dicetuskan oleh Gubernur Sumatera Barat Harun Zain pada tahun 1968. Harun Zain merasa diperlukan warisan yang bisa mempersatukan orang Minang, terutama setelah peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) (Antika, 2023).

Pembangunan replika Istana Pagaruyung juga bertujuan untuk membangkitkan kebanggaan masyarakat Minang akan tradisi dan budayanya. Di tahun yang sama Istana Pagaruyung menjadi situs cagar budaya dan juga dibuka sebagai objek wisata untuk umum. Hal itu sesuai dengan yang tercantum dalam Peraturan daerah Kabupaten Tanah Datar nomor 2 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Datar.

Pada 27 Februari 2007, Istano Pagaruyung ini mengalami kebakaran hebat yang diakibatkan sambaran petir di puncak istana yang menghanguskan sebagian besar dokumen, serta kain-kain hiasan. Istana Pagaruyung ini kemudian dibangun kembali dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2013. 

Meskipun kini sudah dilengkapi dengan struktur beton modern, Istano Basa Pagaruyung dibangun dengan tetap mempertahankan teknik tradisional dan material kayu.

- Keunikan

Keunikan yang dimiliki Istana Pagaruyung ini adalah karena bangunannya berbeda dengan rumah gadang lainnya, karena istana ini dihias dengan 60 ukiran yang menjelaskan filosofi dan budaya Minangkabau. Ciri khas Istana Pagaruyung dapat terlihat dari ornamen ukiran bunga-bunga dan dedaunan yang menghiasi bangunan istana ini. Istana Basa Pagaruyung memiliki tiga lantai, dan terdiri dari 72 tonggak, 11 gonjong atap, dan tanduk yang terbuat dari 26 ton serat ijuk. 

Istana ini juga memiliki 100 replika furnitur dan artefak antik Minang. Ruang bangunan Istana Pagaruyung memiliki anjung atau penaikan lantai di sisi kanan dan kirinya. Adanya anjung dalam istana ini menunjukkan jati diri Istana Pagaruyung sebagai Rumah Gadang Koto Piliang, yang memegang sistem pemerintahan aristokrat, yaitu posisi duduk orang berbeda berdasarkan statusnya.

- Fungsi

Fungsi Istana Basa Pagaruyung adalah pusat pemerintahan dan tempat kediaman raja Kerajaan Pagaruyung di masa lalu, serta kini berfungsi sebagai museum terbuka dan objek wisata budaya untuk melestarikan dan mengenalkan sejarah, adat, dan kebudayaan Minangkabau. Istana ini menjadi simbol kekayaan budaya Minangkabau dan digunakan untuk berbagai acara adat serta pusat pendidikan bagi pengunjung (fiski, 2024).

2. Bangunan Arsitektur Klasik (Istana Siak Sri Indrapura)

Istana Siak terletak di Sri Indrapura, Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Riau. Dari Kota Pekanbaru, kompleks istana ini berjarak sekitar 112 kilometer dengan waktu tempuh hampir tiga jam. Lokasinya yang strategis di tepi Sungai Siak menjadikannya salah satu destinasi sejarah paling menarik di Provinsi Riau.

- Sejarah

Pada masa lampau, Istana Siak merupakan kediaman resmi sekaligus pusat pemerintahan Sultan Siak dari Kesultanan Siak Sri Indrapura. Kompleks istana ini berakar pada perkembangan kesultanan sejak abad ke-18, sementara bangunan istana bergaya modern yang berdiri saat ini dibangun pada masa Sultan Syarif Hasyim pada tahun 1889–1893. 

Kini, Istana Siak difungsikan sebagai museum dan objek wisata budaya yang menyimpan beragam koleksi pusaka keraton, pakaian kebesaran, perabot, hadiah diplomatik, instrumen musik, dan berbagai artefak bersejarah. Selain itu, kompleks istana juga menjadi lokasi penyelenggaraan pameran budaya dan berbagai kegiatan pariwisata.

- Struktur & Geografi

Kompleks Istana Siak memiliki area seluas sekitar 32.000 m² dan terdiri atas beberapa bangunan, yakni Istana Siak sebagai bangunan inti seluas kurang lebih 1.000 m², serta Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baru. Bangunan utamanya merupakan struktur dua lantai yang dilengkapi halaman dalam berisi meriam serta sejumlah bangunan pelengkap seperti balairung dan ruang tahanan sementara. 

Berada di dataran rendah di tepi Sungai Siak, orientasi dan konstruksi istana dirancang untuk menyesuaikan kondisi lingkungan yang lembap sekaligus mendukung akses transportasi tradisional yang pada masa itu mengandalkan jalur sungai.

- Gaya Arsitektur

Secara struktural, bangunan utama istana terdiri dari dua lantai dengan pilar-pilar kokoh yang berhias patung burung elang perunggu. Burung elang, yang juga dipasang pada puncak pilar, melambangkan keberanian, kegagahan, dan kebesaran Kesultanan Siak. Bagian interiornya menampilkan dinding berlapis keramik asli Eropa, lampu kristal seberat satu ton, perabot mewah, serta aneka benda pusaka kerajaan. Kompleks istana juga dilengkapi taman bunga, halaman luas, serta akses ke Sungai Siak, yang semakin memperkuat peran istana sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat rekreasi bangsawan.

Dari sisi gaya arsitektur, istana ini menampilkan perpaduan yang unik. Pengaruh Melayu tradisional, Arab, India, dan Eropa klasik berpadu harmonis dalam satu bangunan. Menariknya, pembangunan istana ini melibatkan arsitek asal Jerman, sehingga menghasilkan rancangan yang berbeda dari istana Melayu pada umumnya. Keberagaman gaya ini menjadikan Istana Siak salah satu contoh paling menarik dari akulturasi budaya dalam arsitektur Nusantara (Saputro, 2023).

- Aspek Sosial

Secara struktural, bangunan utama istana terdiri dari dua lantai dengan pilar-pilar kokoh yang berhias patung burung elang perunggu. Burung elang, yang juga dipasang pada puncak pilar, melambangkan keberanian, kegagahan, dan kebesaran Kesultanan Siak. Bagian interiornya menampilkan dinding berlapis keramik asli Eropa, lampu kristal seberat satu ton, perabot mewah, serta aneka benda pusaka kerajaan. 

Kompleks istana juga dilengkapi taman bunga, halaman luas, serta akses ke Sungai Siak, yang semakin memperkuat peran istana sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat rekreasi bangsawan.

Dari sisi gaya arsitektur, istana ini menampilkan perpaduan yang unik. Pengaruh Melayu tradisional, Arab, India, dan Eropa klasik berpadu harmonis dalam satu bangunan. Menariknya, pembangunan istana ini melibatkan arsitek asal Jerman, sehingga menghasilkan rancangan yang berbeda dari istana Melayu pada umumnya. Keberagaman gaya ini menjadikan Istana Siak salah satu contoh paling menarik dari akulturasi budaya dalam arsitektur Nusantara.

- Fungsi

Saat ini, pengelolaan Istana Siak berada di bawah pemerintah daerah. Fungsinya sebagai museum dan cagar budaya membuatnya menjadi fokus dalam program pelestarian, termasuk konservasi bangunan, perawatan koleksi, dan promosi wisata. Pemerintah juga berupaya mengembangkan kawasan sekitar istana sebagai pusat pariwisata sejarah, sehingga keberadaannya tidak hanya bernilai simbolis, tetapi juga terus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat Siak.

3. Bangunan Arsitektur Neoklasik (Gedung De Javasche Bank Padang)

Dari Jembatan Siti Nurbaya, tampak jelas deretan bangunan kolonial, termasuk gedung bergaya arsitektur Belanda beratap limas yang dahulu berfungsi sebagai Kantor Bank Indonesia Muaro Padang. Bangunan ini terletak di kawasan pusat kota dan mudah dijangkau dari Pelabuhan Muaro Padang, tepatnya di Jalan Batang Arau No. 60, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat (Haryanto, 2017).

- Sejarah

Gedung De Javasche Bank Padang dibangun pada awal abad ke-20 sebagai bagian dari perluasan jaringan perbankan kolonial Belanda di Hindia Belanda. Cabang ini hadir untuk mendukung pesatnya aktivitas perdagangan di Pantai Barat Sumatra, terutama komoditas kopi, rempah, emas, dan hasil pertanian. 

Gedungnya yang terletak di kawasan Kampung Pondok dirancang dengan gaya arsitektur Indo-Eropa baru, memadukan kekokohan bangunan Eropa dengan sistem ventilasi tropis yang sesuai dengan iklim Padang. Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), bangunan ini diambil alih dan dioperasikan oleh Nanpo Kaihatsu Ginko, namun tetap berfungsi sebagai pusat kegiatan keuangan.

Setelah Indonesia merdeka, De Javasche Bank dinasionalisasi dan berubah menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953, sehingga gedung cabang Padang ini resmi menjadi bagian dari BI. Seiring perkembangan waktu, Bank Indonesia berpindah ke kantor baru, dan gedung bersejarah ini kemudian direstorasi serta dialihfungsikan sebagai Museum Bank Indonesia Padang. Kini, bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi salah satu ikon penting dalam kawasan heritage Kota Tua Padang.

- Struktur & Geografis

Struktur bangunan ini memanfaatkan bata merah dan beton bertulang sebagai elemen konstruksi utama, menghasilkan bentuk yang kokoh dan tahan terhadap kondisi lingkungan pesisir. Atapnya berbentuk pelana dan menggunakan genteng tanah liat, yang membantu meredam panas sekaligus mengalirkan air hujan dengan efektif. 

Bukaan berupa jendela berukuran besar serta pintu kayu tebal menjadi ciri khas arsitektur kolonial yang mengutamakan sirkulasi udara, pencahayaan alami, dan ketahanan material. Selain itu, dinding yang dibuat tebal berfungsi menjaga kestabilan suhu dalam ruangan sehingga interior tetap sejuk meskipun berada di daerah beriklim tropis yang lembap dan panas.

Secara geografis, bangunan ini terletak di wilayah pesisir barat Sumatera, berdekatan dengan laut dan Sungai Batang Arau. Letak tersebut menjadikannya lokasi strategis pada masa lampau, terutama karena kawasan ini merupakan pusat perdagangan dan aktivitas pelabuhan yang penting bagi perekonomian kolonial. 

Kini, area tersebut dikenal sebagai Kota Lama Padang, sebuah kawasan bersejarah yang menyimpan beragam bangunan kolonial dan menjadi salah satu pusat pelestarian warisan arsitektur di Kota Padang.

- Gaya Arsitektur

Bangunan ini mengusung gaya arsitektur kolonial Belanda klasik dengan sentuhan tropis yang dikenal sebagai Indische Style. Karakteristiknya tampak pada penggunaan jendela tinggi, ventilasi yang melimpah, dinding tebal, serta bentuk atap yang lebar. Seluruh elemen tersebut dirancang untuk menyesuaikan kondisi iklim tropis yang lembap dan panas, sehingga bangunan tetap nyaman dan berfungsi optimal dalam lingkungan setempat.

- Aspek Sosial

Pada masa kolonial, bangunan ini berperan sebagai simbol kekuasaan ekonomi Belanda di wilayah Sumatera Barat, sekaligus menjadi representasi kehadiran administrasi kolonial dalam mengatur aktivitas perdagangan dan keuangan di kawasan pesisir Padang. Kehadirannya mencerminkan dominasi politik dan ekonomi yang dibangun melalui infrastruktur kolonial yang megah dan berorientasi pada kepentingan ekspor komoditas hasil bumi.

Saat ini, fungsi bangunan tersebut telah bergeser menjadi sarana edukasi dan wisata sejarah yang memungkinkan masyarakat dan pengunjung memahami perkembangan sosial-ekonomi masa lampau. Keberadaannya turut memperkuat rasa keterikatan masyarakat Padang terhadap warisan arsitektur kolonial, sekaligus menjadi medium pelestarian sejarah kota melalui aktivitas budaya, penelitian, dan pariwisata yang terus berkembang.

- Aspek Ekonomi

Pada masa kolonial, bangunan ini berfungsi sebagai pusat transaksi keuangan yang memegang peranan penting dalam kegiatan ekspor hasil bumi, termasuk kopi, teh, dan berbagai jenis rempah yang menjadi komoditas utama Sumatera Barat. Perannya menjadikan kawasan sekitarnya sebagai salah satu titik aktivitas ekonomi kolonial yang strategis. 

Saat ini, bangunan tersebut berkontribusi terhadap perekonomian lokal melalui pengembangan pariwisata sejarah dan budaya, yang menarik pengunjung untuk mengenal lebih jauh warisan arsitektur dan jejak perkembangan ekonomi masa lampau.

- Fungsi

Pada masa kolonial, bangunan ini merupakan Kantor Cabang De Javasche Bank, lembaga keuangan utama Belanda yang kemudian menjadi cikal bakal Bank Indonesia setelah kemerdekaan. 

Perannya tidak hanya terkait aktivitas transaksi dan perbankan, tetapi juga mencerminkan kendali ekonomi kolonial di wilayah Sumatera Barat. Saat ini, bangunan tersebut telah dialihfungsikan menjadi Museum Bank Indonesia Padang, sebuah pusat edukasi yang menyajikan informasi mengenai sejarah perbankan, dinamika ekonomi kolonial, serta perkembangan sistem moneter di kawasan ini.

Pengelolaan museum berada di bawah Bank Indonesia sebagai bagian dari jaringan Museum Bank Indonesia yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Pemeliharaan bangunan dilakukan secara berkala untuk menjaga keaslian struktur arsitekturalnya, sekaligus memastikan kenyamanan pengunjung dan keberlangsungan program edukasi publik yang menjadi tujuan utama museum tersebut.

Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai gaya arsitektur nusantara, klasik, dan neoklasik, terlihat bahwa masing-masing bangunan mencerminkan nilai dan karakter khas dari zamannya. Arsitektur Nusantara seperti Surau Batipuh, Istana Basa Pagaruyung, dan Rumah Lontik menonjolkan kearifan lokal melalui bentuk atap melengkung yang menjadi identitas visual bangunan tradisional Minangkabau. 

Salah satu contoh paling representatif adalah Istana Basa Pagaruyung, simbol arsitektur klasik Minangkabau yang mengadaptasi bentuk rumah gadang, dengan sebelas gonjong yang menyerupai tanduk kerbau (Dunia, t.t.). Bangunan bertingkat tiga ini ditopang oleh tiang-tiang kayu besar dan dihiasi ukiran khas Minangkabau bermotif pucuk rebung, kaluak paku, dan itik pulang patang. 

Setiap lantai memiliki fungsi berbeda, mulai dari ruang pertemuan adat, ruang keluarga, hingga ruangan khusus raja, yang mencerminkan struktur sosial, hierarki, dan nilai budaya masyarakat Minangkabau (Ciputra, t.t.). Penggunaan material alami yang sesuai dengan kondisi iklim tropis semakin menunjukkan keselarasan antara prinsip arsitektur tradisional dan lingkungan sekitarnya.

Arsitektur klasik, sebagaimana terlihat pada bangunan seperti Istana Siak Sri Indrapura dan Jam Gadang Bukittinggi, menampilkan prinsip simetri, penggunaan kolom yang megah, serta komposisi fasad yang berimbang. Istana Siak Sri Indrapura menjadi contoh yang lebih spesifik, dengan gaya klasik Melayu yang dipadukan pengaruh Timur Tengah dan Eropa sehingga menghasilkan tampilan yang megah dan elegan (Priambodo dan Saraswati, t.t.). 

Bangunan dua lantai berdenah simetris ini dilengkapi pilar besar, ornamen berlapis emas, serta ukiran detail pada pintu dan jendela yang mempertegas nuansa istana kerajaan (Creators, 2023). Ruang-ruangnya dirancang luas karena digunakan sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat penyambutan tamu kerajaan, mencerminkan identitas kesultanan yang terbuka terhadap budaya luar namun tetap berakar pada tradisi Melayu. 

Keseluruhan elemen tersebut menghadirkan keseimbangan proporsi yang menjadi ciri khas keanggunan dan kemegahan arsitektur bergaya Eropa.

Arsitektur Neoklasik, sebagaimana terlihat pada Gedung De Javasche Bank Padang dan Gedung Geo Wehry & Co., menampilkan perpaduan antara elemen klasik dengan sentuhan modern melalui penggunaan garis tegas, proporsi harmonis, serta fasad yang lebih sederhana dan fungsional. Gedung De Javasche Bank Padang merupakan contoh menonjol dari gaya ini, dengan fasad simetris, kolom besar, dan bukaan jendela tinggi yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan sirkulasi udara di iklim tropis.

 Ciri khas neoklasik semakin jelas terlihat pada penggunaan marmer pada dinding, jendela berornamen kaca patri berwarna, serta ruang bawah tanah yang masih menyimpan brankas besar dengan pintu besi tebal, yang pada masanya digunakan untuk menyimpan emas dan peralatan pencetak uang. Detail-detail tersebut tidak hanya menggambarkan kemewahan arsitektur masa kolonial, tetapi juga merefleksikan simbol kekuatan ekonomi pada periode tersebut (Ashilla, 2025).

Ketiga gaya arsitektur yang dibandingkan, yaitu klasik, tradisional Minangkabau, dan neoklasik kolonial, meskipun berasal dari konteks sejarah dan fungsi yang berbeda, tetap menunjukkan upaya untuk menggabungkan nilai estetika, kebutuhan fungsional, dan identitas budaya dalam satu bentuk arsitektur yang utuh. Perpaduan ini menghasilkan karya bangunan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan praktis zamannya, tetapi juga meninggalkan warisan visual dan historis yang bernilai hingga masa kini.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis terhadap arsitektur Nusantara, Klasik, dan Neoklasik, dapat disimpulkan bahwa ketiganya memiliki nilai estetika, fungsi, dan filosofi yang berbeda namun saling melengkapi dalam perkembangan arsitektur. Arsitektur Nusantara menonjolkan kearifan lokal dan hubungan harmonis dengan alam, sebagaimana terlihat pada Surau Batipuh, Rumah Lontik, dan Istana Basa Pagaruyung. 

Ciri khasnya tampak pada bentuk atap melengkung atau gonjong yang menyerupai tanduk kerbau, penggunaan material alami seperti kayu dan ijuk, serta tata ruang yang mengikuti fungsi sosial dan adat. Istana Basa Pagaruyung, misalnya, memiliki sebelas gonjong, tiga tingkat ruang dengan fungsi adat yang berbeda, serta ukiran bermotif pucuk rebung dan kaluak paku yang memuat filosofi Minangkabau. 

Keseluruhan unsur tersebut menunjukkan bagaimana arsitektur tradisional Minangkabau menyatukan estetika, simbol budaya, dan adaptasi terhadap iklim tropis.

Sebaliknya, arsitektur klasik menampilkan prinsip simetri, penggunaan kolom besar, dan komposisi fasad yang megah, sebagaimana terlihat pada Istana Siak Sri Indrapura yang memadukan gaya Melayu dengan unsur Timur Tengah dan Eropa. Bangunan dua lantai tersebut memperlihatkan denah simetris, pilar monumental, ornamen emas, serta ruang-ruang luas untuk kegiatan pemerintahan dan penyambutan tamu kerajaan. 

Adapun arsitektur neoklasik, seperti Gedung De Javasche Bank Padang, menawarkan interpretasi yang lebih modern dan rasional melalui garis fasad yang sederhana, kolom tegas, marmer pada dinding, jendela tinggi berornamen kaca patri, serta keberadaan ruang brankas bawah tanah sebagai bukti fungsi ekonomi pada masa kolonial. Ketiga gaya ini menunjukkan bahwa arsitektur bukan hanya bentuk fisik, melainkan representasi nilai budaya, sistem sosial, dan pandangan hidup masyarakat yang melahirkannya.

Adapun dalam penelitian ini terdapat beberapa constraint seperti keterbatasan referensi visual dan data historis yang lengkap untuk masing-masing bangunan, serta tantangan dalam mengidentifikasi pergeseran nilai arsitektur di tiap masa. Namun demikian, terdapat pula opportunities bagi penelitian selanjutnya untuk menggali lebih dalam hubungan antara arsitektur lokal dan pengaruh global, serta bagaimana prinsip-prinsip klasik dan neoklasik dapat diadaptasi dalam konteks arsitektur berkelanjutan di Indonesia.

Dosen: Amanda Rosetia, Ph.D.

Tim Penulis Mahasiswa Universitas Internasional Batam: Angie Aurora Ng, Daniel Wang, Era Hariyani, Joyce Lin, Kallyn Yap, Steve Adam Maulana, Try Marchelina

Reference

Antika, R. 2023. Mengenal Istano Basa Pagaruyung: Sejarah, Lokasi, dan Keunikan.

Ashilla, K. 2025. Dari Bank Kolonial hingga ke Cagar Budaya Relevansi De Javasche.

Azis Mulyantoro, A. (t.t.). Kajian Konsep Arsitektur Neo Klasik Pada Bangunan Mix Used (Studi Kasus: Da Vinci Penthouse, Jakarta).

Ciputra, W. (t.t.). Sejarah Istana Pagaruyung, Raja, dan Arsitektur.

Creators, Z. 2023. Potret Kemegahan Istana Siak Sri Indrapura, Pusat Pemerintahan Kesultanan Melayu Siak.

Dunia, J. (t.t.). Istano Basa Pagaruyung- Tempat Liburan sambil Belajar Sejarah di Sumbar.

fiski, J. 2024. Menelusuri Sejarah Dan Fungsi Istano Basa Pagaruyung Menjadi Warisan Budaya.

Haryanto, B. 2017. Mengintip De Javasche Bank (Bank Indonesia) Muaro Padang dari Zaman ke Zaman.

Priambodo, A. R., dan Saraswati, A. (t.t.). Jalan-jalan ke Istana Siak Sri Indrapura, Kastil Bergaya Eropa di Riau.

Khamdevi, M., dan Joel, D. B. 2024. <title/>. RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space?: Journal of the Built Environment), 11(2), 333. https://doi.org/10.24843/JRS.2024.v11.i02.p09

Maria Sudarwani, M. (t.t.). PENDALAMAN PENGETAHUAN ARSITEKTUR NUSANTARA.

Mengenal Arsitektur Klasik - ARSITAG. (t.t.).

Mengenal Arsitektur Neo Klasik - ARSITAG. (t.t.).

Obbe H. Norbruis. (t.t.). ARSITEKTUR DI NUSANTARA.

Saputro, J. S. 2023. Artikel Kanwil DJKN Riau, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index